PERINGATAN DINI IKLIM EKSTRIM (KEKERINGAN 2010)

17 04 2010

Bicara tentang kemarau pada saat musim hujan seperti saat ini tampaknya berlebihan. Tetapi tidak dapat dipungkiri, sesungguhnya Indonesia sedang berada di bawah pengaruh fenomena iklim El Nino yang dapat menyebabkan musim kemarau 2010 menjadi lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.

El Nino adalah fenomena alam yang disebabkan perbedaan pemanasan permukaan laut sehingga menimbulkan perbedaan tekanan udara antara wilayah Indonesia/Australia dengan samudera pasifik equator. Fenomena ini dimulai dengan penurunan tekanan udara di kawasan samudera pasifik yang diukur di Tahiti dan meningkatnya tekanan udara di Darwin, Australia. Perbedaan tekanan udara tersebut mengakibatkan lemahnya gerak angin dalam sirkulasi udara barat-timur dari pasifik ke barat, sedangkan yang ke arah timur menguat sehingga massa udara bergeser ke samudera pasifik. Keadaan itu diikuti dengan bergeraknya massa air laut yang lebih panas dari wilayah barat ke wilayah timur pasifik.

Kejadian El Nino menunjukkan siklus 4-7 tahun sekali, namun setelah tahun 1940-an frekuensinya cenderung meningkat menjadi 3-5 tahun dengan intensitas semakin kuat. Penyebab fenomena iklim ini belum diketahui secara pasti, tetapi menurut banyak pihak berkaitan dengan pemanasan global walau hasil riset belum cukup untuk membuktikan hal itu.

Institusi meteorologi dunia mencatat rekor suhu  udara bumi terpanas terjadi saat episode El Nino 1997/1998. Tahun 1998 menjadi tahun terpanas setelah 3 dekade pemanasan bumi yang dimulai sejak 1970. Selama 3 dekade itu suhu global rata-rata naik 0.45 0C. Di Indonesia, El Nino 1997/1998 memperburuk kebakaran hutan dan merusak terumbu karang. Dampak terparah yang langsung dirasakan manusia adalah kekeringan karena dapat mempengaruhi produksi pangan, pasokan air untuk pembangkit listrik, rumah tangga, ternak serta ketersediaan air untuk keperluan industri dan rumah tangga.

Di Yogyakarta, El Nino 1997/1998 selain mengakibatkan curah hujan jauh di bawah normal juga mengakibatkan musim hujan terlambat. Musim hujan di Sleman dan Kulon Progo utara dimulai pada Nopember dasarian 3, Sleman selatan dan Kota Yogyakarta pada Desember dasarian 1 serta Bantul, Kulon Progo selatan dan Gunung Kidul barat laut pada Januari dasarian 3. Kondisi ekstrim dialami sebagian besar Gunung Kidul karena sepanjang tahun 1998 mengalami musim kemarau. El Nino 1998 juga menyebabkan musim hujan berlangsung singkat. Karena fenomena iklim ini musim hujan di Yogyakarta berakhir pada April dasarian 3.

Pengaruh

Datangnya El Nino 2009/2010 sudah diprakirakan oleh berbagai lembaga meteorologi dunia termasuk BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Dampak El Nino terhadap curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia relatif kecil, yang sudah dirasakan adalah awal musim hujan 2009/2010 datang lebih lambat dan curah hujan turun drastis di bawah normal. Di Yogyakarta, awal musim hujan jatuh pada Nopember dasarian 2 untuk Kulon Progo dan Sleman utara. Sementara itu untuk Sleman dan Kulon Progo selatan, Kota Yogyakarta, Bantul dan Gunung Kidul barat laut awal musim hujan dimulai pada Desember dasarian 3. Sebagian besar Gunung Kidul mengalami awal musim hujan paling lambat yaitu pada Januari dasarian 1.

El Nino yang telah terjadi sejak Juni 2009, diprediksi berlangsung hingga pertengahan musim kemarau 2010 dan cenderung menyebabkan musim kemarau datang lebih cepat, meskipun demikian intensitasnya lemah-moderat karena lautan di sekitar wilayah Indonesia masih cukup hangat. Sampai akhir Januari 2010 perpindahan massa udara dan uap air telah terjadi dari wilayah Indonesia menuju ke samudera pasifik equator. Ini terlihat dari pola angin udara atas paras 850 mb. BMKG Yogyakarta memprediksi musim kemarau dimulai pada April 2010 dan akan lebih kering dari biasanya. Model iklim “Decadal Prediction System” yang dikembangkan Meteorologi Office, Inggris memprakirakan tahun 2010 merupakan tahun dengan suhu global terpanas dalam sejarah meteorologi dunia, melampaui suhu panas El Nino 1998.

Fakta menunjukkan, meskipun hujan telah berlangsung sejak bulan Nopember 2009 beberapa waduk di Jawa belum terisi penuh hingga dasarian 1 Pebruari 2010. Koordinator Wilayah Perum Jasa Tirta I Bengawan Solo mengatakan, tinggi air waduk Gajah Mungkur Wonogiri baru mencapai 131.08 m dpl dari ketinggian normal 133.68 m. Kondisi ini terburuk dalam 10 tahun terakhir. Karena keadaan ini sebagian warga memanfaatkan bagian waduk yang kering sebagai lahan untuk bercocok tanam.

Di sejumlah tanah air hujan masih turun. Bahkan di wilayah tertentu ancaman banjir dan tanah longsor akibat masih tingginya curah hujan masih terus diwaspadai. Namun jangan lupa, meskipun kemarau belum juga datang potensi kekeringan sudah mengintai.

Kekeringan menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian. Keterlambatan dan musim hujan yang pendek serta curah hujan yang minim menurunkan keberhasilan penyerbukan, terutama padi yang tanam awal di area irigasi. Pengaruhnya pada pembentukan bulir padi hingga produksi. Suhu udara meningkat dan kelembaban udara rendah menaikkan aktifitas hama seperti wereng dan tikus serta penyakit.

Tak hanya itu. Kekeringan juga bisa mengganggu kelangsungan sektor industri yang memanfaatkan listrik sebagai salah satu roda penggerak produksi. Begitu waduk-waduk penampungan air untuk memproduksi listrik di sejumlah PLTA tak terisi sesuai batas ketinggian normal maka dapat terjadi krisis energi yang akan mempengaruhi proses dan optimalisasi produksi.

Antisipasi

Antisipasi jangka pendek di bidang pertanian dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan kerugian lebih besar dengan menjadwal ulang saat pemupukan, menyesuaikan pola tanam serta memilih benih tanaman berusia pendek dan butuh air sedikit. Untuk peternakan, perikanan dan rumah tangga perkotaan dilakukan dengan menghemat air termasuk penggunaan air tanah. Bila perlu, air hujan sebanyak mungkin ditampung dan diresapkan ke tanah.





PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2010

17 04 2010

Musim hujan akan segera berakhir. Walaupun sampai akhir Maret 2010 hujan masih turun di sejumlah wilayah di Yogyakarta, namun pengamatan synoptik menunjukkan tanda-tanda mengarah pergantian musim. Liputan awan yang sedikit, variasi perubahan cuaca yang kompleks, hujan tidak merata pada sore hari serta suhu udara tinggi semuanya mencirikan pola cuaca pancaroba. Cuaca demikian lebih dipengaruhi oleh aktifitas matahari di katulistiwa dan faktor lokal yakni pembentukan awan Comulunimbus secara konvektif yang berasal dari penguapan laut selatan. Melemahnya intensitas monsun asia yang sebelumnya berpengaruh terhadap musim hujan di Yogyakarta diyakini sebagai penyebab dominansi faktor lokal ini.

Adalah opini publik yang salah kaprah telah menganggap bahwa musim hujan berarti “tiada hari tanpa hujan” dan musim kemarau berarti “tiada hari tanpa cerah atau berawan”. Tidak heran ketika terjadi hujan di musim kemarau sering dikatakan “udan salah mongso”. Sebenarnya ditinjau dari ilmu meteorologi tidak demikian. Dikatakan musim hujan jika dalam satu dasarian atau sepuluh hari curah hujannya mencapai 50 mm atau lebih diikuti dua dasarian berikutnya. Bisa jadi dalam rentang sepuluh harian itu terdapat hari-hari tanpa hujan. Sebaliknya musim kemarau terjadi jika dalam satu dasarian curah hujannya kurang dari 50 mm diikuti dua dasarian berikutnya. Jadi tidak tertutup kemungkinan selama musim kemarau turun hujan walaupun dengan intensitas ringan dan jumlah hari hujan sedikit.

Istilah ramalan cuaca sering kita dengar di kalangan masyarakat, bahkan sampai tingkat instansi sekalipun. Bagi kalangan akademik, istilah tersebut tentu tidak tepat. Ada perbedaan mendasar antara istilah ramalan dan prakiraan. Ramalan identik dengan praktek paranormal yang dilakukan menggunakan pranalar atau ilmu kebatinan untuk mengetahui nasib atau apapun yang berhubungan dengan hidup seseorang di masa mendatang. Sementara itu prakiraan dibuat berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah menggunakan ilmu pengetahuan yang dipelajari di institusi pendidikan formal dan dapat dijelaskan secara logika. Karena itu istilah prakiraan digunakan untuk menduga kondisi cuaca atau iklim yang belum terjadi.

Zona Musim

Pembagian daerah prakiraan musim di Indonesia ditentukan berdasarkan zona musim (zom) dan penomerannya secara nasional. Zona musim didefinisikan sebagai daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau. Luas suatu wilayah zom tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan. Dengan demikian satu zom dapat terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu kabupaten dapat terdiri dari beberapa zom.

Wilayah Yogyakarta terbagi atas 6 zom, namun untuk keperluan pertanian hanya 4 zom yang dijadikan referensi karena 2 zom lainnya di pegunungan Menoreh dan Gunung Merapi. Zom paling sempit yaitu zom 72 mencakup Kulon Progo bagian tengah (Kalibawang bagian utara) dan Sleman Barat laut (Tempel dan Turi). Zom 75 adalah yang terluas di Yogyakarta. Zom ini meliputi Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul bagian utara (Sedayu, Kasihan, Sewon, Banguntapan, Piyungan, Pleret dan Dlingo), Kulon Progo bagian utara (Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo dan Nanggulan) serta Gunung Kidul bagian utara (Patuk, Gedangsari, Ngawen, Nglipar, Karangmojo, Wonosari, Paliyan dan Playen).

Zom lainya yaitu 70 meliputi Bantul bagian selatan (Pajangan, Bantul, Jetis, Imogiri, Pandak, Bambanglipuro, Pundong, Panggang, Srandakan, Sanden dan Kretek) serta Gunung Kidul bagian barat (Panggang) dan Kulon Progo bagian selatan (Kokap, Temon, Pengasih, Wates, Panjatan, Sentolo, Lendah dan Galur). Zom terakhir adalah zom 83 mencakup sebagian besar Gunung Kidul ( Saptosari, Tepus, Semanu, Semin, Ponjong dan Rongkop).

Awal Musim Kemarau dan Sifat Hujannya

Awal musim kemarau dinotasikan sebagai kombinasi antara bulan dan dasarian. April III artinya bulan April dasarian ke 3. Dasarian I dimulai dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 10, dasarian II antara tanggal 11 sampai dengan tanggal 20 dan dasarian III dari tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.

Pantauan perkembangan kondisi dinamika atmosfer-lautan sampai akhir Maret 2010 menujukkan kondisi normal, kecuali fenomena iklim El Nino yang berlangsung sejak pertengahan 2009 masih berlanjut  hingga sekarang. Aktifitas El Nino yang telah mencapai intensitas moderate diprediksi berakhir bulan Juli 2010. Pengaruh El Nino terhadap awal musim kemarau 2010 dan curah hujan diprakirakan kecil karena suhu permukaan laut perairan Indonesia masih hangat.

Prediksi awal musim kemarau di sebagian besar zom di Yogyakarta (zom 70,75 dan 83) dimulai Mei I, kecuali untuk zom 72 awal musim kemarau paling akhir yaitu Mei III. Bila dibandingkan dengan strandar normalnya, awal musim kemarau tahun ini tidak bersamaan untuk tiap-tiap zom. Zom 75 mundur (lebih lambat)1 dasarian namun untuk zom 70 maju (lebih cepat) 1 dasarian. Khusus untuk zom 83 awal musim kemarau sama dengan rata-ratanya.

Definisi sifat hujan musim kemarau yaitu perbandingan banyaknya curah hujan selama musim kemarau dengan standar normal curah hujan musim kemarau selama periode 30 tahun. Ada 3 kategori sifat hujan, yang pertama Bawah Normal (BN) bila akumulasi curah hujan kurang 85% dari nilai normalnya. Kedua Normal (N) bila akumulasi curah hujan antara 85% sampai dengan 115% dari normalnya dan ketiga Atas Normal (AN) bila akumulasi curah hujan lebih 115% dari normalnya.

Secara umum sifat hujan musim kemarau untuk wilayah Yogyakarta bervariasi tiap-tiap zom. Sifat hujan normal diprediksi terjadi di zom 72 dan 70, sedangkan sifat hujan bawah normal berpeluang besar terjadi di zom 75 dan 83. Mengingat dua zom terakhir ini mencakup 67% dari luas wilayah Yogyakarta maka perlu mendapat perhatian serius karena curah hujan minim dapat menimbulkan kekeringan khususnya di daerah pertanian Gunung Kidul. (Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 10 April 2010)





ANOMALI CUACA AWAL MUSIM HUJAN 2009/2010

26 11 2009

Evaluasi

Cuaca di Yogyakarta dan sekitarnya tanggal 24 Nopember 2009 cerah-berawan dengan jumlah liputan awan rata-rata kurang dari 4 oktaf dan kondisi ini diprediksi akan berlanjut sampai beberapa hari ke depan. Perubahan cuaca ini termasuk signifikan mengingat cuaca selama dasarian II Nopember 2009 berawan-hujan. Dalam rentang waktu tersebut tercatat data hujan di Stasiun Geofisika Yogyakarta dan AWS online Pakem, Sleman menunjukkan curah hujan > 50 mm.

Liputan Awan Global

Analisis

Citra Awan

Liputan awan tanggal 25 Nopember 2009 di pulau Jawa clear, cluster awan hujan terkonsentrasi di Sumatera dan Sulawesi. Beberapa cluster awan lain terlihat di perairan Filipina dan Samudera Pasifik sebelah utara Papua yang mengindikasikan pusat tekanan rendah, satu diantaranya adalah Tropical Cycloone “NIDA”

Suhu Permukaan Laut

Suhu permukaan laut diperairan Indonesia tanggal 24 Nopember 2009 cukup panas dengan anomali 1-2 0C. Di Samudera Hindia selatan Jawa 28-30 0C dan di laut Jawa 30 – 32 0C. Kondisi ini sebenarnya cukup untuk mensuplai pembentukan awan hujan di Yogyakarta karena penguapan air laut cukup intensif.

Angin Udara Atas

Streamline tanggal 24 Nopember 2009 menunjukkan Monsun Australia menguat kembali. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya LPA (Low Pressure Area) di Belahan Bumi Utara (5 buah), bahkan satu diantaranya Tropical Cycloone “NIDA” di Samudera Pasifik utara Papua. Pola ini menyebabkan ITCZ yang terbentuk beberapa hari sebelumnya menjadi pudar dan bergerak ke arah utara (menjauhi Jawa). Daerah shearline yang semula di jawa juga bergeser ke utara menempati posisi barunya di sekitar equator.

Posisi MJO

MJO (Maden Jullian Oscilation)

Posisi MJO tanggal 18 – 21 Nopember 2009 berada di fase 4 atau di sekitar pulau Jawa. Keberadaan MJO ini ikut menyumbang terhadap pembentukan hujan di Yogyakarta pada rentang tanggal tersebut. Posisi MJO terakhir tanggal 23 Nopember 2009 berada di fase 5 atau tepatnya di daerah Sulawesi dan bergerak ke timur menjauhi Jawa.

Indeks Dipole Mode

Dipole Mode

Indeks Dipole Mode terakhir tgl 22 Nopember 2009 -0,15. Bila dilihat data historisnya, sejak Juli 2009 lalu nilai DMI ini masih dalam kisaran normalnya (0.5 s.d -0.5). Nilai ini memberikan arti bahwa pergerakan uap air di Samudera Hindia masih berada dalam kapasitas normal.

Suhu Permukaan Laut

El Nino

Data anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik Equator bagian tengah menunjukkan telah terjadi El Nino kuat sejak awal Nopember 2009 lalu. Anomali SST Nino 3.4 terakhir tanggal 22 Nopember 2009 menunjukkan nilai 1.63

atau berada pada kisaran 1.5 – 2.0. Dari trendnya nilai anomali ini semakin menurun menuju ke intensitas sedang

Indeks Osilasi Selatan (SOI) terakhir tanggal 23 Nopember 2009 menunjukkan nilai -10,4. tetapi trend SOI tersebut mengarah ke Normal (<-10.0). Data SOI terkecil menembus angka -16.7 pada tanggal 3 dan 4 Nopember 2009, bersamaan dengan kondisi SST di sekitar Jawa pada dasarian I Nopember 2009 yang sempat mendingin mengakibatkan musim hujan di Yogyakarta mundur dari rata-ratanya.

Kesimpulan

Kondisi cuaca cerah-berawan pada tanggal 24 Nopember 2009 dan kemungkinan beberapa hari ke depan disebabkan oleh munculnya 4 pusat tekanan rendah (LPA) di Belahan Bumi Selatan. 3 LPA (sebelah barat Aceh, Laut Cina Selatan atas Malaysia dan di Samudera Pasifik sekitar Filipina) memecah ITCZ yang sempat terbentuk beberapa hari yang lalu. Pola ini mengakibatkan monsun Asia yang beberapa waktu lalu “mendekati” Jawa menjadi tertahan dan posisinya kembali berada di sekitar sebelah utara Sumatera dan Kalimantan.

Tropical Cycloone “NIDA” di utara Papua yang bergerak ke arah barat laut dan diprediksi menuju ke timur laut akan mengendalikan pergerakan ITCZ atau monsun Asia ke arah utara. Kondisi ini akan mempengaruhi cuaca dan pengurangan hujan di Yogyakarta dan sekitarnya.

Diprakirakan gangguan/anomali cuaca ini berlangsung selama kurang lebih 1 minggu (sampai akhir Nopember 2009). Setelah TC punah dan LPA di Belahan bumi utara hilang maka cuaca di Yogyakarta akan kembali normal.

Fenomena terjadinya El Nino ditetapkan berdasarkan Anomali SST di Nino 3.4 (0.5–1.0 0C kategori lemah, 1.5–2.0 0C kategori sedang dan >2.0 0C kategori kuat).

Indikator anomali pergerakan uap air di Indonesia oleh pengaruh El Nino di tentukan oleh nilai SOI. Bila nilai SOI < -10.0 berarti pergerakan uap air di Indonesia mengarah ke samudera pasifik.

Pengaruh El Nino di Yogyakarta lebih di pengaruhi oleh kondisi suhu permukaan laut di perairan sekitar Jawa (Samudera Pasifik selatan Jawa dan laut Jawa). Walaupun secara data terjadi fenomena El Nino, namun bila SST di perairan sekitar Jawa hangat maka El Nino tidak akan berpengaruh karena suplai uap air terhadap pembentukan hujan di Yogyakarta bersumber dari penguapan air laut ini.

Evaluasi curah hujan di Yogyakarta dari AWS di Stasiun Geofisika Yogyakarta dan Pakem Sleman; dasarian III Okt >50 mm, Nop I <50 mm dan Nop II >50 mm. Berdasarkan data ini awal musim hujan wilayah Sleman, Bantul dan Kulon Progo untuk sementara ditetapkan Nop II. Mengingat adanya gangguan/anomali cuaca tersebut di atas dan curah hujan dasarian III Nopember sampai tanggal 24 Nopember 2009 masih 10 mm maka kemungkinan awal musim hujan akan mundur lagi ke Desember dasarian I. Secara otomatis untuk Gunung Kidul awal musim hujannya akan lebih lambat dibandingkan dengan daerah lainnya.





EL NINO DATANG, KEKERINGAN MENGANCAM

26 08 2009
Kekeringan

Kekeringan

Konferensi Pers tentang informasi Monitoring dan Prediksi El Nino 2009/2010 oleh Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 16 Juli 2009 lalu menjadi momentum penting bagi BMKG dan masyarakat Indonesia. Sejak saat itu berbagai institusi terkait seperti Departemen Pertanian, Pekerjaan Umum, Kehutanan, Kesehatan dan institusi lainnya mempersiapkan kebijakan untuk meminimalisir dampak yang mungkin terjadi. Bahkan pemerintah siap mengucurkan dana 1 sampai 2 trilyun untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap pertanian Indonesia.

El Nino tidak hanya menjadi perhatian institusi saja. Kalangan akademis juga tak mau tinggal diam. Berbagai kajian tentang dampak dan solusinya menjadi pemikiran bagi mereka. Bahkan masyarakat umum khususnya petani yang notabene paling merasakan dampak El Nino harus diberikan informasi melalui program Sekolah Lapangan Iklim agar kerugian yang mungkin timbul akibat gagal panen bisa ditekan seminimal mungkin.

Informasi tentang El Nino hendaknya disampaikan dengan bijaksana, artinya jangan sampai dilebih-lebihkan apalagi sampai salah dalam pemberitaan. Hal ini perlu digarisbawahi mengingat  dalam pemuatan berita di media elektronik, cetak maupun online seringkali dikaitkan dengan badai. El Nino bukan jenis atau nama badai tropis melainkan hanya gangguan iklim skala global. Bila kita cermati pemberitakan El Nino di media massa akhir-akhir ini, El Nino diekspos sedemikian rupa seakan dampaknya begitu mengerikan. Akibatnya masyarakat resah dan menimbulkan sejumlah pertanyaan, sebenarnya El Nino itu apa dan sejauh mana dampaknya terhadap kehidupan kita?

Fenomena El Nino

El Nino secara meteorologis didefinisikan sebagai fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di pasifik equator tengah (di atas normal) yang biasanya diikuti penurunan suhu permukaan laut di perairan Indonesia (di bawah normal). Pengertian El Nino secara publik yaitu memanasnya suhu permukaan laut di pasifik tengah sehingga secara umum menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang.

El Nino sebagai fenomena skala global tidak hanya mempengaruhi wilayah Indonesia saja tetapi juga belahan dunia lainnya, namun karena kepulauan Indonesia terdiri dari perairan yang luas maka tidak semua wilayah Indonesia terkena dampak El Nino. Sumatera secara umum aman dari pengaruh El Nino karena ada fenomena Dipole Mode yang mempengaruhi curah hujan di wilayah tersebut.

Jawa termasuk Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang terkena imbas El Nino.  Analisis hubungan antara intensitas El Nino dengan penurunan curah hujan di Jawa menunjukkan nilai korelasi -0,6 s/d -0,4. Ini berarti semakin kuat El Nino, jumlah curah hujan di Jawa semakin rendah.

Mekanisme El Nino bermula dari kondisi suhu permukaan laut di pasifik equator yang hangat atau terjadi tekanan rendah di daerah ini. Pada saat yang sama suhu permukaan laut di perairan Indonesia dingin dan terbentuk tekanan udara tinggi. Bila perbedaan tekanan udara ini besar atau peningkatan suhu permukaan laut di pasifik equator ini tinggi maka massa udara di Indonesia akan tertarik ke pasifik equator mengakibatkan pembentukan awan di wilayah Indonesia berkurang. Kondisi ini akan berdampak pada penurunan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. El Nino sedang hingga kuat yang terjadi pada musim kemarau akan mengakibatkan kemarau panjang atau awal musim hujan mundur dibandingkan rata-ratanya.

Fenomena El Nino dapat kita ketahui dari nilai anomali suhu permukaan laut di daerah Nino 3.4 yang berada di samudera pasifik equator tengah antara 1200 BT-1700 BT. Jika penyimpangan dari rata-ratanya 0.5 s/d 1.0 0C terjadi El Nino lemah, bila antara1.0 s/d -2.0 0C El Nino sedang dan lebih besar dari 2.0 0El Nino kuat. Indikator nilai penyimpangan ini terjadi minimal 3 bulan berturut-turut.

Dinamika Atmosfer-Lautan

Data historis El Nino 30 tahun terakhir menunjukkan bahwa kejadian El Nino tidak membentuk siklus tetap. El Nino dengan kategori kuat terjadi 3 kali yaitu tahun 1972/1973, 1982/1983 dan 1997/1998.  Dampak kekeringan terparah terjadi pada periode El Nino 1997/1998 mengakibatkan awal musim hujan di Yogyakarta mundur dari rata-ratanya (Oktober) ke bulan Desember 1997 dan Januari 1998. Selain itu sifat hujannya turun drastis di bawah normal dengan pengurangan curah hujan rata-rata mencapai 700 mm.

Data IOS (Indeks Osilasi Selatan) 5 bulan terakhir yang merupakan selisih tekanan udara antara Tahiti (Pasifik Tengah) dan Darwin (Australia) masih dalam batas normal (-10 s/d 10). Hal Ini berarti belum terjadi aliran massa udara dari wilayah Indonesia ke samudera pasifik tengah. Sementara itu data anomali suhu permukaan laut di Nino 3.4 dua  bulan terakhir menunjukkan nilai rata-rata 0.8 0C, artinya sejak Juni 2009 telah terjadi El Nino lemah yang intensitasnya mengarah ke sedang pada pertengahan Agustus 2009. Namun demikian, El Nino lemah ini belum berpengaruh terhadap penurunan curah hujan di wilayah Indonesia karena kondisi suhu permukaan laut di perairan Indonesia masih normal.

Prediksi

El Nino lemah yang terjadi sejak Juni 2009 diprakirakan akan berlangsung sampai September 2009. Memasuki musim hujan pada Oktober 2009, intensitas El Nino berubah menjadi sedang yang akan terus berlanjut sampai Desember 2009. Diprediksi episode El Nino ini mencapai puncaknya pada bulan Nopember 2009 dan Januari 2010. Karena kondisi ini diprakirakan El Nino tahun 2009/2010 tidak akan separah tahun 1997/1998. Akibat El Nino ini jumlah curah hujan selama musim hujan 2009/2010 akan di bawah normal dan awal musim hujan di Yogyakarta akan mundur atau dimulai sekitar Nopember sampai Desember 2009. (Dimuat di harian Kedaulatan Rakyat edisi Sabtu, 22 Agustus 2009)





DIPREDIKSI MUSIM KEMARAU, MENGAPA HUJANNYA MASIH TINGGI?

21 06 2009

Study analisis diambil wilayah Sleman tengah dan selatan serta Kodya Yogyakarta yang berdasarkan ZOM awal musim kemarau 2009 dimulai Mei I. Untuk evaluasi hujan diambil data dari Stasiun Geofisika Yogyakarta karena dianggap masih representatif (mewakili daerah tersebut). Berdasarkan data hujan selama bulan Mei 2009, tercatat Mei I curah hujannya 35 mm, Mei II 64 mm dan Mei III 33 mm. Secara Klimatologis, prediksi awal musim kemarau di atas tidak relevan lagi karena dekade II Mei 2009 curah hujannya melampaui 50 mm. Padahal berdasarkan definisi, awal musim kemarau dimulai ketika curah hujan dalam satu dekade di bawah 50 mm dan diikuti dekade berikutnya. Pertanyaannya, apa yang terjadi dengan cuaca pada dekade II Mei sehingga curah hujannya meningkat/tinggi?

sstAnalisis Fenomena Skala Global

El Nino dan La Nina

Berdasarkan data anomali suhu muka laut global tanggal 22 Mei 2009, terpantau anomali suhu muka laut di samudera pasifik bagian tengah (Nino 3.4) -0.5 s/d 0.5 dan mengarah ke anomali positif. Kondisi ini berarti normal dan ada indikasi ke arah El Nino. Dengan kata lain tidak ada fenomena La Nina yang menyebabkan penambahan curah hujan di Yogyakarta.

mjo

MJO (Madden Jullian Oscilation)

Data posisi MJO seminggu terakhir (gambar 2) menunjukkan pergerakan MJO masih berada di fase 7 atau di samudera pasifik. Ini berarti peningkatan curah hujan di Yogyakarta bukan di sebabkan oleh aktifitas MJO.

Analisis Fenomena Skala Regional

Angin Udara Atas (Streamline)

Streamline tanggal 27 Mei 2009 menunjukkan angin udara atas bertiup dari tenggara. Sebenarnya stereamlinedari data ini, indikasi musim kemarau sudah terjadi di Yogyakarta. Karena sifat angin ini kelembaban udaranya rendah sehingga tidak mendukung terbentuknya hujan di Jawa. Pola angin ini juga tidak mendeteksi adanya ITCZ yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan di Yogyakarta.

palungPalung Tekanan Rendah

Palung tekanan rendah dapat dideteksi dari citra satelit berupa gugusan awan yang memanjang. Biasanya kalau ada palung yang mengenai Jawa, akan terjadi hujan di wilayah yang tersebut. Citra satelit tanggal 15 – 17 dan 26 Mei 2009  menunjukkan ada palung yang membujur dari Australia sampai ke Jawa. Palung ini salah satu penyebab hujan pada tanggal-tanggal tersebut.

Fenomena Skala Synoptik

Pantauan citra satelit selama dekade II Mei 2009 sampai sekarang tidak dijumpai Siklon Tropis di samudera Hindia. Hal ini berarti peningkatan hujan di Yogyakarta selama ini tidak disebabkan oleh fenomena ini.

sst anomaliFenomena Skala Lokal

Pantauan suhu muka laut lokal

selama Dekade II Mei 2009 sampai tanggal 26 Mei 2009 secara umum menunjukkan peningkatan suhu muka laut di perairan selatan DIY dan laut Jawa. Untuk perairan selatan DIY suhu muka lautnya 28 – 30 0C dan di laut Jawa 30 – 32 0C. Anomali suhu muka laut ini antara 1 – 2 0C yang mencitrakan laut hangat-panas. Kondisi ini memicu penguapan yang sangat intensif sehingga mengakibatkan pembentukan awan-awan lokal . Adanya Konvergensi (pertemuan angin) atau shear (belokan angin)  di atas Jawa ikut mendukung terbentuknya awan-awan lokal yang mengakibatkan hujan di Yogyakarta dengan intensitas ringan hingga sedang.

Prediksi

Mengamati perkembangan kondisi suhu muka laut terkini di samudera hindia dan laut Jawa khususnya di sekitar pulau Jawa, diprakirakan peningkatan suhu muka laut masih terjadi hingga dekade I Juni 2009. Hal ini berarti sampai Juni I nanti Yogyakarta masih berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.





PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2009

27 05 2009

kemarauPrediksi cuaca di Yogyakarta hari ini berawan, suhu udara antara 22- 330C, kelembaban antara 51 – 96% dan angin bertiup dari tenggara dengan kecepatan mencapai 18 km/jam.. Demikian sepenggal kalimat tentang informasi prakiraan cuaca harian yang sering kita jumpai di media cetak atau kita dengar dan lihat di media elektronik.

Informasi prakiraan cuaca seperti di atas sangat penting bagi operator dan pengguna alat transportasi, wisatawan bahkan nelayan karena dapat menunjang keberhasilan pekerjaan atau aktifitas mereka yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya. Namun jika yang membutuhkan adalah petani yang notabene pengguna jasa informasi iklim, apakah prakiraan cuaca tadi telah mengcover kebutuhan mereka? Tentu tidak. Prakiraan cuaca tidak dapat menjelaskan bagaimana prospek hujan bulan depan dan kapan awal musim hujan atau musim kemarau terjadi. Hal ini disebabkan karena  cuaca dan iklim mempunyai rentang waktu yang berbeda.

Cuaca adalah kondisi atmosfer di suatu tempat yang terjadi dalam waktu singkat sedangkan iklim merupakan rata-rata cuaca yang terjadi dalam waktu puluhan tahun. Istilah yang erat kaitannya dengan iklim adalah musim. Musim didefinisikan sebagai rentang waktu yang di dalamnya terdapat kondisi cuaca yang dominan. Bila cuaca yang dominan adalah hujan maka dinamakan musim hujan dan bila yang dominan adalah cerah atau berawan maka dinamakan musim kemarau.

Apabila kita cermati opini masyarakat yang berkembang sekarang ini, telah terjadi persepsi yang keliru yang menganggap bahwa musim hujan berarti “tiada hari tanpa hujan” dan musim kemarau berarti “tiada hari tanpa cerah atau berawan”, maka jangan heran ketika terjadi hujan di musim kemarau sering dikatakan “udan salah mongso”. Sebenarnya ditinjau dari ilmu meteorologi tidak demikian. Dikatakan musim hujan jika dalam satu dasarian atau sepuluh hari curah hujannya mencapai 50 mm atau lebih diikuti dua dasarian berikutnya. Bisa jadi dalam rentang sepuluh harian itu terdapat hari-hari tanpa hujan. Sebaliknya musim kemarau terjadi jika dalam satu dasarian atau sepuluh hari curah hujannya kurang dari 50 mm diikuti dua dasarian berikutnya. Jadi tidak tertutup kemungkinan selama musim kemarau turun hujan walaupun dengan intensitas ringan dan jumlah hari hujan sedikit.

Ramalan atau Prakiraan?

Sering kali kita mendengar istilah ramalan cuaca dari masyarakat yang sampai sekarang mungkin masih digunakan. Bagi kalangan akademisi, istilah tersebut tentu tidak tepat, memang kelihatannya sepele. Tetapi ada perbedaan mendasar antara istilah ramalan dan prakiraan. Ramalan identik dengan praktek paranormal yang dilakukan menggunakan pranalar atau ilmu kebatinan untuk mengetahui nasib atau apapun yang berhubungan dengan hidup seseorang di masa mendatang. Sementara itu prakiraan dibuat berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah menggunakan ilmu pengetahuan yang dipelajari di institusi pendidikan formal dan dapat dijelaskan secara logika. Karena itu istilah prakiraan digunakan untuk menduga kondisi cuaca atau iklim yang belum terjadi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selama ini mengeluarkan dan mempublikasikan secara berkala informasi prakiraan musim baik itu musim hujan maupun musim kemarau. Untuk prakiraan musim hujan di terbitkan pada bulan September dan prakiraan musim kemarau diterbitkan pada bulan Maret setiap tahunnya.

Informasi prakiraan musim kemarau berguna sebagai acuan bagi instansi-instansi terkait dan pihak-pihak tertentu dalam menentukan kebijakan terkait rencana kerja yang telah di susun sebelumnya. Bagi petani, awal musim kemarau digunakan untuk menentukan awal musim tanam khususnya untuk tanaman-tanaman yang tidak menghendaki curah hujan banyak seperti tembakau dan bawang merah.

Prakiraan Awal Musim Kemarau 2009

Sebagai dasar pertimbangan dalam pembuatan prakiraan musim kemarau, kami memantau dan memprakirakan enam fenomena alam, yaitu tiga Fenomena Global  yang terdiri dari El Nino-La Nina, Dipole Mode dan MJO (Madden Julian Oscilation) serta tiga Fenomena Regional meliputi Sirkulasi Monsun Asia-Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis, dan Suhu Muka Laut di Perairan Indonesia yang akan terjadi selama musim kemarau 2009.

Awal musim kemarau dinotasikan sebagai kombinasi antara bulan dan dasarian.   Mei I artinya bulan Mei dasarian ke 1. Dasarian I dimulai dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 10, dasarian II antara tanggal 11 sampai dengan tanggal 20 dan dasarian III dari tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.

Untuk wilayah Yogyakarta awal musim kemarau bervariasi tiap-tiap daerah. Awal musim kemarau untuk kota Yogyakarta dimulai pada Mei II, Kulon Progo bagian utara Mei II dan Kulon Progo bagian selatan Mei III, Sleman Mei II, Bantul bagian utara Mei II serta Bantul bagian selatan Mei III. Untuk Gunung Kidul bagian utara awal musim kemarau dimulai Mei II, Gunung Kidul bagian barat daya Mei III dan Gunung Kidul bagian tenggara Mei I.

Prakiraan Sifat Hujan Musim Kemarau 2009

Sifat hujan musim kemarau didefinisikan sebagai perbandingan banyaknya curah hujan selama musim kemarau dengan standar normal curah hujan musim kemarau selama periode 30 tahun. Ada tiga kategori sifat hujan, yang pertama Bawah Normal (BN) bila akumulasi curah hujan kurang 85% dari nilai normalnya. Kedua Normal (N) bila akumulasi curah hujan antara 85% sampai dengan 115% dari normalnya dan ketiga Atas Normal (AN) bila akumulasi curah hujan lebih 115% dari normalnya.

Secara umum sifat hujan musim kemarau untuk wilayah Yogyakarta bervariasi tiap-tiap daerah. Sifat hujan Bawah Normal terjadi di sebagian besar Gunung Kidul dan Normal terjadi di Bantul bagian utara, Sleman, Gunung kidul bagian utara, Kota Yogyakarta dan Kulon Progo bagian tengah dan utara. Sementara itu untuk sifat hujan Atas Normal terjadi di Bantul bagian selatan, Kulon Progo bagian selatan dan Gunung Kidul bagian barat daya.





PUTING BELIUNG ANCAM DIY

27 05 2009

Kamis, 23 Oktober 2008

harjoMANTRIJERON: Kejadian hujan es di Gunungkidul dan angin ribut di Magelang, Selasa (21/10), akan terus berlanjut sepanjang masa pancaroba atau peralihan musim, yang diperkirakan di wilayah DIY akan berakhir pertengahan November.
“Memasuki musim penghujan, potensi terjadi angin ribut dan puting beliung semakin menipis,” kata staf Basic Klimatologi Bagian Informasi dan Data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) DIY, Sigit Hadi Prakoso, kepada Harian Jogja melalui telepon, kemarin.

Dia mengatakan pada dasarnya bentuk topografi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara keseluruhan mendukung terjadinya aktivitas awan yang menelorkan puting beliung. “Terutama di daerah yang kurang vegetasi dan kota yang banyak gedung-gedung penyebab panas di daratan.”

Angin puting beliung memiliki kecepatan hingga 120 km/jam, dan berlangsung antara 1-5 menit. Bencana alam itu bersifat lokal, tapi sanggup mengangkat atap rumah dan memporak-porandakan permukiman.

Timbul dari gerakan angin secara mendadak di awan commulusnimbus (cb) dari tekanan tinggi di puncak awan (dingin), menuju tekanan rendah di daratan (panas).
Sigit menuturkan pergerakan angin akan lebih cepat sampai ke daratan jika di wilayah daratan memantulkan panas dan bertanah lapang tanpa bebukitan. ”Gedung-gedung di perkotaan dan tanah tandus lapang menyumbang terjadinya angin itu,” katanya.

Ciri-ciri awal munculnya angin kencang hingga puting beliung, terang Sigit, antara lain terjadinya panas terik dalam 1-2 hari berturut-turut, dan pada hari berikutnya mendadak muncul awan rendah berbentuk bunga kol berwarna pekat membawa udara dingin.

“(Awan) itu ketebalannya bisa mencapai 9 kilometer, dan puncak awan bisa berupa es,” terang Sigit. Ciri-ciri selanjutnya, sesaat sebelum kejadian puting beliung, biasanya berembus angin sepoi yang berasa dingin.
Sigit menjelaskan peristiwa alam seperti di Gunungkidul dan Magelang yang memakan korban luka ringan dan berat pada Selasa lalu, belum diketahui apakah hanya angin kencang ataukah puting beliung. “Kami minim data dari sumber di tempat kejadian.”

Berdasarkan data di BMG, kejadian angin ribut dan puting beliung biasa terjadi pada siang hingga sore hari. Sedangkan kejadian pagi dan malam hari sangat minim. “Ya, paling banyak memang (terjadi) pada rentang pagi hingga sore,” ujar Sigit.
Kepala BMG DIY, Budi Waluyo, menambahkan angin puting beliung tidak bisa diprediksi secara akurat kejadiannya. “Setelah melihat tanda-tandanya, baru bisa diprediksi setengah sampai satu jam sebelum kejadian. Itu pun tingkat akurasinya 50 persen,” jelasnya. (Nugroho Nurcahyo)