Bicara tentang kemarau pada saat musim hujan seperti saat ini tampaknya berlebihan. Tetapi tidak dapat dipungkiri, sesungguhnya Indonesia sedang berada di bawah pengaruh fenomena iklim El Nino yang dapat menyebabkan musim kemarau 2010 menjadi lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.
El Nino adalah fenomena alam yang disebabkan perbedaan pemanasan permukaan laut sehingga menimbulkan perbedaan tekanan udara antara wilayah Indonesia/Australia dengan samudera pasifik equator. Fenomena ini dimulai dengan penurunan tekanan udara di kawasan samudera pasifik yang diukur di Tahiti dan meningkatnya tekanan udara di Darwin, Australia. Perbedaan tekanan udara tersebut mengakibatkan lemahnya gerak angin dalam sirkulasi udara barat-timur dari pasifik ke barat, sedangkan yang ke arah timur menguat sehingga massa udara bergeser ke samudera pasifik. Keadaan itu diikuti dengan bergeraknya massa air laut yang lebih panas dari wilayah barat ke wilayah timur pasifik.
Kejadian El Nino menunjukkan siklus 4-7 tahun sekali, namun setelah tahun 1940-an frekuensinya cenderung meningkat menjadi 3-5 tahun dengan intensitas semakin kuat. Penyebab fenomena iklim ini belum diketahui secara pasti, tetapi menurut banyak pihak berkaitan dengan pemanasan global walau hasil riset belum cukup untuk membuktikan hal itu.
Institusi meteorologi dunia mencatat rekor suhu udara bumi terpanas terjadi saat episode El Nino 1997/1998. Tahun 1998 menjadi tahun terpanas setelah 3 dekade pemanasan bumi yang dimulai sejak 1970. Selama 3 dekade itu suhu global rata-rata naik 0.45 0C. Di Indonesia, El Nino 1997/1998 memperburuk kebakaran hutan dan merusak terumbu karang. Dampak terparah yang langsung dirasakan manusia adalah kekeringan karena dapat mempengaruhi produksi pangan, pasokan air untuk pembangkit listrik, rumah tangga, ternak serta ketersediaan air untuk keperluan industri dan rumah tangga.
Di Yogyakarta, El Nino 1997/1998 selain mengakibatkan curah hujan jauh di bawah normal juga mengakibatkan musim hujan terlambat. Musim hujan di Sleman dan Kulon Progo utara dimulai pada Nopember dasarian 3, Sleman selatan dan Kota Yogyakarta pada Desember dasarian 1 serta Bantul, Kulon Progo selatan dan Gunung Kidul barat laut pada Januari dasarian 3. Kondisi ekstrim dialami sebagian besar Gunung Kidul karena sepanjang tahun 1998 mengalami musim kemarau. El Nino 1998 juga menyebabkan musim hujan berlangsung singkat. Karena fenomena iklim ini musim hujan di Yogyakarta berakhir pada April dasarian 3.
Pengaruh
Datangnya El Nino 2009/2010 sudah diprakirakan oleh berbagai lembaga meteorologi dunia termasuk BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Dampak El Nino terhadap curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia relatif kecil, yang sudah dirasakan adalah awal musim hujan 2009/2010 datang lebih lambat dan curah hujan turun drastis di bawah normal. Di Yogyakarta, awal musim hujan jatuh pada Nopember dasarian 2 untuk Kulon Progo dan Sleman utara. Sementara itu untuk Sleman dan Kulon Progo selatan, Kota Yogyakarta, Bantul dan Gunung Kidul barat laut awal musim hujan dimulai pada Desember dasarian 3. Sebagian besar Gunung Kidul mengalami awal musim hujan paling lambat yaitu pada Januari dasarian 1.
El Nino yang telah terjadi sejak Juni 2009, diprediksi berlangsung hingga pertengahan musim kemarau 2010 dan cenderung menyebabkan musim kemarau datang lebih cepat, meskipun demikian intensitasnya lemah-moderat karena lautan di sekitar wilayah Indonesia masih cukup hangat. Sampai akhir Januari 2010 perpindahan massa udara dan uap air telah terjadi dari wilayah Indonesia menuju ke samudera pasifik equator. Ini terlihat dari pola angin udara atas paras 850 mb. BMKG Yogyakarta memprediksi musim kemarau dimulai pada April 2010 dan akan lebih kering dari biasanya. Model iklim “Decadal Prediction System” yang dikembangkan Meteorologi Office, Inggris memprakirakan tahun 2010 merupakan tahun dengan suhu global terpanas dalam sejarah meteorologi dunia, melampaui suhu panas El Nino 1998.
Fakta menunjukkan, meskipun hujan telah berlangsung sejak bulan Nopember 2009 beberapa waduk di Jawa belum terisi penuh hingga dasarian 1 Pebruari 2010. Koordinator Wilayah Perum Jasa Tirta I Bengawan Solo mengatakan, tinggi air waduk Gajah Mungkur Wonogiri baru mencapai 131.08 m dpl dari ketinggian normal 133.68 m. Kondisi ini terburuk dalam 10 tahun terakhir. Karena keadaan ini sebagian warga memanfaatkan bagian waduk yang kering sebagai lahan untuk bercocok tanam.
Di sejumlah tanah air hujan masih turun. Bahkan di wilayah tertentu ancaman banjir dan tanah longsor akibat masih tingginya curah hujan masih terus diwaspadai. Namun jangan lupa, meskipun kemarau belum juga datang potensi kekeringan sudah mengintai.
Kekeringan menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian. Keterlambatan dan musim hujan yang pendek serta curah hujan yang minim menurunkan keberhasilan penyerbukan, terutama padi yang tanam awal di area irigasi. Pengaruhnya pada pembentukan bulir padi hingga produksi. Suhu udara meningkat dan kelembaban udara rendah menaikkan aktifitas hama seperti wereng dan tikus serta penyakit.
Tak hanya itu. Kekeringan juga bisa mengganggu kelangsungan sektor industri yang memanfaatkan listrik sebagai salah satu roda penggerak produksi. Begitu waduk-waduk penampungan air untuk memproduksi listrik di sejumlah PLTA tak terisi sesuai batas ketinggian normal maka dapat terjadi krisis energi yang akan mempengaruhi proses dan optimalisasi produksi.
Antisipasi
Antisipasi jangka pendek di bidang pertanian dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan kerugian lebih besar dengan menjadwal ulang saat pemupukan, menyesuaikan pola tanam serta memilih benih tanaman berusia pendek dan butuh air sedikit. Untuk peternakan, perikanan dan rumah tangga perkotaan dilakukan dengan menghemat air termasuk penggunaan air tanah. Bila perlu, air hujan sebanyak mungkin ditampung dan diresapkan ke tanah.









Analisis Fenomena Skala Global 
dari data ini, indikasi musim kemarau sudah terjadi di Yogyakarta. Karena sifat angin ini kelembaban udaranya rendah sehingga tidak mendukung terbentuknya hujan di Jawa. Pola angin ini juga tidak mendeteksi adanya ITCZ yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan di Yogyakarta.
Palung Tekanan Rendah
Fenomena Skala Lokal
Prediksi cuaca di Yogyakarta hari ini berawan, suhu udara antara 22- 330C, kelembaban antara 51 – 96% dan angin bertiup dari tenggara dengan kecepatan mencapai 18 km/jam.. Demikian sepenggal kalimat tentang informasi prakiraan cuaca harian yang sering kita jumpai di media cetak atau kita dengar dan lihat di media elektronik.
MANTRIJERON: Kejadian hujan es di Gunungkidul dan angin ribut di Magelang, Selasa (21/10), akan terus berlanjut sepanjang masa pancaroba atau peralihan musim, yang diperkirakan di wilayah DIY akan berakhir pertengahan November.
Komentar Terakhir